Analis: Tahun 2018 Tantangan Bagi Pasar Obligasi - Seratospersen

Breaking

Analis: Tahun 2018 Tantangan Bagi Pasar Obligasi


Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, 2018 merupakan tahun yang menantang bagi pasar fix income atau pasar obligasi di Indonesia.

Sebab, menurut dia, untuk tahun ini investor tidak lagi bisa menikmati imbal hasil atau yield dari obligasi sebanyak dua digit sebagaimana dua tahun ke belakang. Di mana pada 2016, investor bisa memperoleh yield sebesar 14 persen. Dan, pada 2017 sebesar 18 persen.

Sedangkan untuk tahun ini, Anto, akrabnya disapa, mengatakan yield dari obligasi hanya mencapai kisaran tujuh persen.

"Dua tahun terakhir, investor yang investasi di pasar obligasi menikmati return double digit. Jadi, catatan kita, 2016 bisa return-nya 14 persen, 2017 bisa sampai 18 persen. Akibatnya, starting entry level kita itu sudah sangat rendah di 2018," ucapnya, saat ditemui di Gedung Plaza Mandiri, Kamis 17 Mei 2018.

Anto menjelaskan, hal itu terjadi karena untuk tahun ini sudah banyak kepemilikan asing di Surat Utang Negara yang semakin berkurang dengan disebabkan beralihnya mereka ke US Treasury Bonds yang memberikan imbal hasil semakin menarik, yakni mencapai lebih dari tiga persen.

"Karena, mau tidak mau kepemilikan asing (dahulu) di SUN masih cukup besar. Jadi, akhir tahun lalu sekitar 40 persen. Sekarang, sudah banyak keluar asing, sekarang tinggal 37 sampai 38 persen," paparnya.

Di samping itu, lanjut dia, hal itu juga dipengaruhi oleh sudah tidak mungkinnya  Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuannya. Bahkan, untuk tahun ini akan terus mengalami kenaikan di kisaran 25-50 basis poin.

"Dua variabel ini membuat kita yakin bahwa memang investasi di pasar obligasi tidak akan memberikan return sespektakuler 2016 dan 2017," ujarnya.

Karena itu, dia menekankan, pasar obligasi memang sangat dipengaruhi oleh foreign fund flows. Karenanya, agar pasar obligasi bisa memberikan return yang bagus dan bisa memberikan daya tarik bagi investor. Maka, strategi untuk memperoleh inflow yang deras perlu terus digiatkan.

"Karena, kalau kita lihat apa yang terjadi di awal tahun, ketika inflow masih US$30 triliun, kinerja pasar obligasi memberikan return yang positif. Tetapi, begitu meet april, asing keluar kita langsung menerima return yang negatif sejak 15 April, sampai dengan kondisi saat ini," paparnya. (asp)

Pages