Bakpia, Oleh-Oleh Khas Yogyakarta - Seratospersen

Breaking

Bakpia, Oleh-Oleh Khas Yogyakarta


SERATOSPERSEN - Siapa yang tak kenal dengan Bakpia, salah satu makanan khas yang wajib dijadikan oleh-oleh saat berkunjung ke Yogyakarta.

Mungkin diantara kalian ada yang pernah atau sering membawa oleh-oleh makanan yang satu ini, berbentuk bulat kecil namun memiliki rasa yang nikmat. Sama seperti halnya gudeg jogja, bakpia juga sudah menjadi makanan serta oleh-oleh yang sangat khas dari kota pelajar ini.

Dibalik cita rasa Bakpia yang nikmat ini terdapat beberapa cerita dan fakta yang sangat unik, bahkan bisa dibilang aneh dan tidak disangka-sangka.

1. Alasan Bakpia memakai angka
Pasti diantara kalian sudah ada yang pernah membeli dan merasakan nikmatnya makanan ini. Namun sadarkah kalian jika di kemasan bakpia tersebut pasti ada angka semisal bakpia 25, 75, dll.

Nah ternyata angka-angka tersebut memiliki arti yaitu untuk membedakan dengan bakpia lainnya, seperti bakpia 75, nomor yang digunakan adalah nomor rumah yang pada saat itu digunakan untuk produksi.

2. Pernah tercatat dalam rekor Muri
Tak hanya soal rasa yang nikmat, Bakpia Jogja ternyata juga pernah mencatatkan namanya pada Muri atau Museum rekor indonesia untuk bakpia terbesar pada tahun 2010 yang berlokasi di monumen serangan umum 1 maret.

Dengan diameter 2,6 meter dan garis lingkar 8,25 meter bakpia ini memiliki berat 5 ton, dan dibuat oleh 29 juru masak. Wahh kira-kira habis dimakan oleh berapa orang ya ini?

3. Nama awalnya Tou Lok Pia
Terkesan asing bukan? Karena mengggunakan dialek hokkian dimana nama bakpia berarti “kue daging” dan pada awalnya makanan ini dibuat dengan daging babi.

Namun untuk menyesuaikan dengan kultur masyarakat sekitar kemudian kue ini isinya diganti dengan kacang hijau yang sudah dihaluskan, kemudian namanya menjaddi bakpia yang berarti kue pia isi kacang hijau.

Seiring perkembangan jaman saat ini bakpia sudah memiliki banyak varian rasa seperti coklat, keju, bahkan stroberi.

4. Makanan ini sempat dihindari oleh masyarakat, Kok bisa? Makanan seenak ini  dihindari?
Jadi awalnya makanan ini dibuat oleh para pendatang di jogja yang berasal dari tiongkok. Dengan latar belakang seperti itu masyarakat Jogja merasa “asing” dan belum akrab dengan pendatang, bahkan menolak untuk memakan makanan yang diolah oleh pendatang.

Namun seiring berjalannya waktu, hubungan masyarakat Jogja dengan pendatang membaik dan mulai bisa menerima makanan tersebut tentunya dengan berbagai proses termasuk akulturasi.

5. Asal nama bakpia pathok
Siapa yang belum pernah merasakan nikmatnya makanan ini? yap nama Bakpia Pathok merupakan salah satu merk yang kondang di Jogja. Bakpia ini dianggap memiliki rasa serta kualitas yang terrbaik, pada awalnya “pathok” merupakan nama sebuah daerah yang menghasilkan bakpia atau biasa disebut jalan pathuk, dari situlah nama pathok melegenda hingga sekarang. Namun pada saat ini nama jalan tersebut sudah berubah menjadi jalan KS tubun.

6. Bukan makanan asli Jogja
Meski makanan ini sudah menjadi salah satu ikon kuliner dan oleh-oleh dari jogja namun ternyata makanan ini bukanlah makanan yang asli dari Yogjakarta.

Cikal bakal makanan yang melegenda ini nyatanya berasal dari tradisi tionghoa dan para pendatang dari tiongkok lah yang pertama kali membuatnya. Meski begitu saat ini makanan tersebut menjadi makanan yang wajib dicoba saat berkunjung ke Yogyakarta.

7. Ditetapkan sebagai warisan budaya
Dengan sejarah pembuatan dan asal usul bakpia yang panjang ternyata menarik perhatian pemerintah, dan terbukti pada tanggal 27 Oktober 20016 bakpia dinobatkan menjadi warisan budaya Tak Benda dari provinsi DIY oleh menteri pendidikan dan kebudayaan RI, dan jogja berhasil mengalahkan Bali serta Surabaya yang juga mengajukan bakpia sebagai warisan budaya daerah masing-masing.

Nah, ternyata selain nikmat bakpia memiliki banyak cerita di dalamnya yang mungkin belum banyak diketahui. Pastikan kalian menyempatkan mencicipi makanan ini saat berkunjung ke jogja yaa.

Pages